Oleh Prashasti Wilujeng Putri, 1006693243
Judul Buku : “Perbandingan Sistem Politik”
Pengarang : Mochtar Mas’oed dan Colin McAndrews
Nama Penerbit, Tahun Terbit : Jogjakarta: UGM Press, 2000
Di dalam masyarakat, kehidupan manusia memiliki peranan penting dalam sistem politik suatu negara. Setiap warga negara dalam kesehariannya hampir selalu bersentuhan dengan aspek-aspek politik. Secara langsung maupun tidak langsung, dalam proses pelaksanaannya, warga negara melakukan praktik-praktik politik. Secara langsung berarti orang tersebut ikut terlibat dalam peristiwa politik tertentu atau masuk dan ikut aktif dalam partai politik tertentu.
Kehidupan politik telah menghasilkan dan membentuk variasi pendapat, pandangan, dan pengetahuan tentang praktik-praktik perilaku politik dalam semua sistem politik. Kita bisa mengukur pengetahuan-pengetahuan, perasaan, dan sikap warga negara terhadap negaranya, pemerintahnya, dan pemimpin politiknya.
Budaya politik merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat dengan ciri-ciri yang lebih khas. Ciri-ciri yang lebih khas ini lalu membentuk sebuah tipe budaya dalam masyarakat dan melahirkan stabilitas sistem. Mas’oed dan McAndrews membahasnya dalam buku mereka yang berjudul Perbandingan Sistem Politik.
Budaya politik menurut Gabriel Almond adalah orientasi-orientasi kehidupan warga negara terhadap politik dan pemerintahannya. Peran warga negara yang diharapkan, apakah harus aktif atau masa bodoh.
Sedangkan budaya politik menurut L. W. Pye adalah kumpulan nilai-nilai fundamental, perasaan, dan tindakan memberikan evaluasi yang memberikan bentuk dan isi ke dalam proses-proses politik. Pye membahas tentang apakah masyarakat damai, mendukung, dan senang atas pemerintahan negaranya dan pemimpinnya atau apakah masyarakat memberontak, tidak suka, dan resah atas pemerintahan negaranya.
Menurut Austin Ranney, terdapat dua komponen utama dari budaya politik, yaitu orientasi kognitif dan orientasi afektif. Orientasi kognitif terkait dengan pengetahuan rakyat tentang sistem politik dan ketrampilannya dalam mempraktikannya. Yang kedua adalah orientasi afektif yang terkait prespektif tentang sistem politik mempengaruhi perasaan atau pandangan pada sistem politiknya, apakah positif atau negatif. Jika positif maka warga senang dan mendukung. Jika negatif maka warga tidak suka, resah, dan memberontak.
Sementara itu Almond dan Verba mengacu pada apa yang dirumuskan Parsons dan Shils tentang klasifikasi tipe-tipe orientasi, bahwa budaya politik mengandung tiga komponen obyek politik, yaitu orientasi kognitif, orientasi afektif, dan orientasi evaluatif. Orientasi evaluatif yaitu keputusan dan pendapat tentang obyek-obyek politik yang secara tipikal melibatkan standar nilai dan kriteria dengan informasi dan perasaan.
Terdapat struktur budaya politik, yaitu menurut tipe-tipe budayanya dan menurut subbudaya politiknya. Menurut tipe-tipe budayanya, budaya politik terbagi dalam tiga klasifikasi, yaitu budaya politik partisipan, budaya politik subjek, dan budaya politik parokhial.
Budaya politik partisipan adalah budaya politik pada orang-orang yang melibatkan diri secara aktif dan mempunyai pengetahuan luas tentang sistem politik. Kesadaran warga masyarakat akan politik sangat tinggi.
Budaya politik subjek adalah budaya politik pada orang-orang yang mengetahui perundang-undangan tetapi tidak berpartisipasi secara aktif. Dari aspek sosial dan ekonomi, masyarakat sudah relatif maju, namun belum aktif.
Budaya politik parokhial adalah budaya politik pada orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan atau informasi tentang sistem politik di negaranya. Warga masyarakat ini juga tidak ikut terlibat aktif atau pasif sama sekali.
Menurut subbudaya politiknya, budaya politik terbagi dalam tiga klasifikasi, yaitu wilayah, etnis, dan ideologi atau agama. Dalam subbudaya politik ini, cara masyarakat menilai, merasa, dan melihat kehidupan politik berbeda-beda sesuai dengan subbudaya politiknya. Apabila subbudaya politiknya wilayah maka cara masyarakat menilai, merasa, dan melihat kehidupan politik berbeda-beda sesuai dengan wilayah tempat ia berada. Apabila subbudaya politiknya etnis maka cara masyarakat menilai, merasa, dan melihat kehidupan politik berbeda-beda sesuai dengan etnisnya. Apabila subbudaya politiknya ideologi atau agama maka cara masyarakat menilai, merasa, dan melihat kehidupan politik berbeda-beda sesuai dengan ideologi atau agamanya, seperti misalnya Uni Soviet dengan ideologi komunis.
Tipe-tipe budaya politik itu, apakah itu partisipan, subjek, atau parokhial, membentuk budaya politik warga masyarakat. Budaya politik itu lalu menghasilkan stabilitas sistem politik. Sistem politik itu terbentuk atas dasar budaya politik masyarakatnya.
Mengenai subbudaya politik yang saya sebutkan di atas, koherensi antara subbudaya politik dan budaya politik dominan (atau yang biasa disebut budaya politik nasional) sangat berpengaruh terhadap kematangan budaya politik. Dalam subbudaya politik itu ada yang paling menonjol dan akhirnya disebut sebagai budaya politik dominan atau budaya politik nasional. Apabila ada kesesuaian antara budaya politik dominan dan subbudaya politik, akan menghasilkan pada matangnya budaya politik negara itu.
0 comments:
Post a Comment