Terus, beberapa hari yang lalu, gue sama Raslene lagi di
meja bunder IFI, nyatet beberapa catatan. Sambil ngomongin film-film gitu deh.
Gue sih bukan orang yang mengerti banget film. Raslene tuh yang demen dan
ngerti. Nah terus gue nyeletuk lah soal gue pengen ke bioskop di Senen itu. Eh
ternyata Raslene juga mengalami hal yang sama dengan gue: pengen nonton di sana
tapi ga ada temen. Akhirnya, jadilah tadi kami merealisasikan keinginan kami.
Ahahay!
Awalnya, kami dari IFI naik angkot ke bioskopnya. Sempet
kelewatan agak jauh, terus jalan kaki deh. Pas nyampe, kami digodain beberapa
mas-mas. Duh sebel. Pasang tampang jutek! Nah terus kami ke loketnya tuh. Tapi
tutup. Di tulisannya, pertunjukan itu baru mulai jam 2, sedangkan itu masih jam
setengah satu kira-kira. Jadi deh kami foto-foto dulu. Sambil nunggu sampai
loket buka, kami ke luar bioskop untuk cari minum. Tapi terus kami malah
foto-foto poster-poster film itu dulu. Begitu kami mau jalan cari minum, kami
ngeliat ada loket yang buka. Oh ternyata pembelian karcisnya ada di sisi lain
gedung. Kami pun ke dalam mendatangi loket. Ternyata, yang jam 1 ada pertunjukan.
Yaudah kami beli deh. Harganya 5000 rupiah, saudara-saudara. Judulnya duh lupa.
Ada kata ‘Rapist’nya gitu deh. Posternya bokep pokoknya. Yaudah deh, kami
nunggu paling lima menit, terus udah disuruh masuk.
Pas masuk, suer gue deg-degan. Ruangannya tuh gelap. Kami
nonton di bangku yang sejajar sama layar. Pas mau nonton, kami milih bangku
dulu. Bangkunya kebanyakan udah pada rusak gitu. Ga ada sistem ngetag tempat
duduk kayak di XXI btw. Eh, mosok pas gue bilang ke Wahyu kalau gue dan Raslene
mau nonton di sana, Wahyu bilang kalau bangkunya ada yang bekas sperma. Iyuuuh!
Saat layar menyala, filmnya langsung mulai. Ga ada tuh
imbauan-imbauan untuk matikan hp, jangan berisik, dan sebagainya. Film ini
tentang tiga pemerkosa yang sadis yang menjadi buronan polisi. Di awal, ada
scene seorang perempuan lagi olahraga. Sekali lagi, gue bukan orang yang ngerti
soal film ya, jadi ini menurut pendapat gue aja. Si perempuan ini pake tank-top
dan celana yang pas sepanjang bawah pantat. Cara pengambilan gambarnya tuh
sejenis sama pengambilan gambar di film bokep. Bagian yang dizoom itu
pantatnya, belahan dadanya, terus diambilnya dari bawah. Kalau di film bokep,
terutama Asian, saat si aktor melakukan hubungan seksual, si perempuan akan
menjadi pihak yang tersiksa, sementara si laki-laki akan tambah horny ngeliat
perempuan begitu. Oke ini keluar konteks sebentar. Menurut temen gue waktu gue
tanya soal film bokep, memang banyak laki-laki (yang gue tanyain emang cuma
laki-laki) yang tambah horny kalau nonton film bokep Asian yang perempuannya
tersiksa. Nah, di film yang gue tonton di bioskop di Senen ini, ada bagian si
pemerkosa membuat si perempuan ini tersiksa, kemudian dia akan menjadi sangat
senang dan puas. Sadis deh filmnya.
Pas lagi nonton, gue sama Raslene diskusi soal film ini.
Gila ya, warga Jakarta yang berekonomi rendah, yang ga bisa meraih pendidikan
tinggi, dan tentunya ga bisa meraih hiburan yang harganya mahal, disuguhin
film-film jenis ini. Mereka jadi makin bodoh karena dibodohi oleh pelaku
industri film. Kalau kata Morgan dan Shanahan, frekuensi menonton televisi yang
tinggi lebih mungkin untuk mempersepsikan bahwa kehidupan nyata adalah seperti
kehidupan yang ada di dalam dunia fiksi televisi. Terus tadi Raslene juga
bilang, audio visual itu hal yang paling bisa bikin suatu informasi melekat di
otak. Coba bayangin, mereka bisa belajar gimana cara memperkosa, mereka bisa
belajar gimana cara menculik, lalu menyiksa orang lain. Terus orang yang abis
nonton film itu ngajarin temen-temennya. Jadi deh proses pembelajaran perilaku jahat
kayak kata Sutherland.
Selain itu, cara pikir mereka juga dibentuk menjadi cara
pikir yang merendahkan perempuan. Cara pengambilan gambar dan adegan-adegan
dalam film itu bisa aja kan membuat penontonnya melecehkan perempuan yang pakai
tank-top atau kerah rendah. Atau bahkan memperkosa perempuan dengan pakaian
yang seperti itu, kemudian menyalahkan perempuan karena memakai baju yang
seperti itu karena dianggap menggoda atau menimbulkan birahi. Kemudian,
perempuan harus memakai baju yang tertutup supaya tidak diperkosa. Seakan-akan
salah perempuan jika perempuan diperkosa.
Kemudian, kalau dibilang selera pasar, well, bukannya pelaku
pasar itu sendiri yang membentuk selera pasar? Para konsumen hanya melahap apa
yang disuguhkan. Apalagi, mereka nggak punya pilihan untuk melahap apa yang
baik dan tidak menurut mereka. Manusia kan butuh hiburan. Manusia butuh
refreshing. Tapi terus, hiburan itu mahal banget. Coba ke XXI, paling murah
25.000. Kata ibu, 25.000 itu harga dua kali makan satu keluarga yang terdiri
dari tiga orang kalau masak sendiri dengan lauk sederhana. Sedangkan,
pendapatan mereka per hari berapa sih? Belum untuk beli kebutuhan lainnya.
Alhasil, mereka pun menonton film di bioskop di Senen itu. Karena cukup dengan
5.000 saja, mereka bisa mendapat hiburan. Mereka terima aja apa yang
ditawarkan. Mereka tonton saja film apa yang lagi dimainkan di bioskop itu.
Karena mereka terbiasa nonton film semacam itu, selera mereka pun terbentuk.
Edukasi yang baik pun menjadi semakin eksklusif untuk warga
kota berkelas ekonomi rendah. Seakan edukasi hanya untuk warga yang punya cukup
uang untuk membeli edukasi tersebut. Memang, hiburan nggak hanya dari film,
contoh lain adalah taman kota (ada di postingan yang gue tulis soal taman kota).
Tapi, liat deh, di Senen mana ada taman. Di senen adanya pasar, adanya tempat
percetakan, terus ada bioskop deh. Yang lainnya? Butuh duit untuk meraih itu.
Ruang publik itu menjadi hilang. Atau semu, mungkin kata yang tepat. Karena hmm
katakanlah mall. Katanya mall untuk publik kok. Semua orang bisa masuk. Tapi
terus kalau masuk mau ngapain? Nggak bisa duduk-duduk juga karena kalau duduk di
kafe harus bayar makanan dan minuman. Kalau kata Herry Priyono, domain publik
itu bebas diakses oleh semua pihak. Saking bebasnya, kemudian ada pihak dengan
daya yang lebih bisa mengakses dan memiliki domain publik itu. Akhirnya, domain
publik pun bukan jadi milik publik lagi. Sementara, informasi yang mempunyai
kadar edukasi yang bagus berada di ruang-ruang yang tidak jadi milik publik.
Terus warga kota dengan kelas ekonomi rendah ini harus gimana? Mau mati-matian
cari hiburan yang berisi informasi bagus dengan mengorbankan uang makan untuk
dua hari? Nggak mungkin kan. Banyak orang kelas menengah yang merendahkan
selera warga kelas bawah. Padahal, mereka pun ga punya pilihan. Padahal, selera
mereka pun dibentuk pelaku pasar. Padahal, yang ikutan membentuk selera seperti
itu adalah orang menengah juga selaku pelaku pasar.
Ada nggak ya, yang bikin layar tancep dengan film dengan
edukasi oke? Ada sih. Cuma ya itu, publikasinya terbatas pada kalangan
tertentu. Kemudian, pesan yang disampaikan juga tidak sampai. Mungkin harus ada
kegiatan nonton film bareng kayak layar tancep gitu di kelurahan dengan film
yang mempunyai informasi dan mengedukasi dengan baik. Nggak usah film yang
berat. Yang ringan dan mainstream aja dulu, yang penting pesannya sampai ke
masyarakat.
Nah tuh. @Tifsembiring ga mau ngawasin film-film seperti yang ada di bioskop di Senen aja? Ditambah, sinetron dan FTV yang kerjaannya membodohi masyarakat. Daripada ribet ngeblock vimeo dsb kan ya.
Nah tuh. @Tifsembiring ga mau ngawasin film-film seperti yang ada di bioskop di Senen aja? Ditambah, sinetron dan FTV yang kerjaannya membodohi masyarakat. Daripada ribet ngeblock vimeo dsb kan ya.
Begitulah. Setelah filmnya selesai, gue dan Raslene pun
keluar terus cari minum. Oiya, pas lagi nonton, ada gitu bapak-bapak tua jalan
di depan kami dengan sangat lambat. Ngeri euy! Gue aja ga berani duduk nyandar,
saking kebayang nanti gue dibekep dari belakang atau gimana. Haha lebey! Hari
Jumat yang menyenangkan dengan pengalaman yang absurd!
Foto: Dokumentasi Raslene









5 comments:
Asti gue mau dong diajak kalau mau nonton lagi. Mau nonton, ga punya teman. Sendirian, nggak berani. penasaran.
Di jember (kampung gw ituh..hahhaa) dulunya juga bioskopnya macam senen ty...kursinya reyot dan banyak tikus berkeliaran..hingga akhirnya datanglah developer baik hati yang benerin tu bioskop jadi bagus..gak sebagus XXI tentunya tapi much better. Nah, lucunya walaupun filmnya cukup update baik yg film asing atau film lokal..disamping poster film keren itu selalu ada poster film esek2 geje macam "birahi membara" yg juga tetep ada. Harga tiketnya sih sekitar 15-20rb doang sih, cuma gtw gw kalo yg film esek2 itu harganya sama atau enggak. Gw cuma mau bilang bahwa sebenarnya emang film kaya gt udah ada pasarnya sendiri bukan hanya gdanya akses ty. Ruang terbuka padahal cukup banyak d kampung gw dan deket ama tu bioskop, tapi yaitu karena masih tetap ada permintaan maka produksi tetap dilakukan.
@yani osmawati: ahahaha.. aku ga mau lagi kak ke sana kalo cuma berdua. klo rame-rame sih oke deh. oiya, kalo ke sana, jangan lupa bawa kipas yah. pengap dan panas banget soalnya.
@orisa shinta: itu kak, mereka emang punya pasar sendiri. menurutku itu karena mereka emang udah dibentuk menjadi seperti itu. yang aku bilang selera mereka dibentuk. jadinya, mau ada alternatif hiburan pun, kalau masih disuguhi film semacam itu, orang-orang masih akan tetep nonton.
Halo tii gue seneng banget baca postingan lo ini. Gue juga pengen nyobain tuh bioskop tapi beneran ga ada temennya. Hahaha. Anyway, setelah baca postingan lo gue jd bertanya: apakah pasar ditentukan oleh selera masyarakat ataukah pasar yang menentukan selera masyarakat? Nah konkretnya, apakah selera esek2 itu bisa muncul karena pasar yg menyediakan pilihan film esek2 ataukah memang ada kebutuhan dari masyarakat sendiri terhadap esek2. Jadi terkadang mekanismenya bukan soal ada/tidaknya pilihan alternatif yang lebih tidak esek2. Tapi film2 yg menggabungkan sex dan unsur bunuh2an menjawab kerinduan alam bawah tidak sadar kita yg tertekan norma sosial, begitu teorinya mr.freud. Jadi menurut gue film2 seperti itu akan tetap masuk ke dalam pilihan yg ditawarkan. Nah tinggal aja, banyak penggemarnya apa enggak, ditonton apa enggak. Cuman seperti yang lo bilang, masyarakat ekonomi rendah tidak berdaya untuk memilih karena film dgn harga murah yg ditawarkan ke mereka hanyalah yg esek2. Persoalan berikutnya bisa dikaitkan dengan kehadiran dvd bajakan tii. Haha tapi komentarnya makin kepanjangan. Bravo untuk pengalaman serunya tii!!!
aaah donna, makasih donna atas masukannya :) haha kita bisa mengkaji ini dari berbagai sudut pandang sih. klo industri ini dilarang, malah ada monopoli dan black market kan. serba salah. semangat donn! semangat menjalani hidup! :)
Post a Comment