Kupandang langit penuh bintang bertaburan
Berkerlap-kerlip seumpama intan berlian
Tampak sebuah lebih terang cahayanya
Itulah bintangku, bintang kejora yang indah s'lalu
......
Aldo : Bintang Kejora ajaaaa.
Arlin: Bintang Kejora tu yang kayak gimana?
Aldo : Lagu. Masa ga tau?
Arlin: Kayaknya sih pernah tau.
Aldo : Gini nih lagunya... Kupandang langit penuh bintang bertaburan. Berkerlap....
Arlin: Oooh itu. Iya iya. Pernah denger tuh. Nyanyiin lagi.
Aldo : Kupandang langit penuh bintang bertaburan. Berkerlap-kerlip seumpama intan berlian. Tampak sebuah lebih terang cahayanya. Itulah bintangku, bintang kejora yang indah s'lalu.
Arlin: Hmm kayaknya dulu sering denger deh. Bagus deh lagunya.
Aldo : Iya lah, kan lagu anak-anak.
Arlin: Oo...
......
Arlin sangat suka melihat bintang pada malam hari. Ia suka naik ke genting di dekat jendela kamarnya, lalu duduk di genting, memandangi pemandangan malam yang sepi namun menggetarkan jiwanya. Ingatan masa lalu yang sudah sangat lama itu membuat Arlin sadar bahwa selama ini Aldo hanya bintang untuknya. Bintang yang dari bumi kelihatan indah sekali. Arlin tidak tahu bagaimana bintang itu dari dekat. Apakah ternyata bintang itu mengeluarkan cahaya yang sangat amat panas sehingga menyakitkan, Arlin tidak tahu. Yang ia tahu hanya bintang itu indah dilihat dari bumi. Arlin tidak pernah benar-benar menjangkau Aldo. Terlalu jauh. Bahkan untuk melihat dan mengaguminya saja sudah terasa sangat indah. Untuk memiliki sebuah bintang serasa amat muluk. Ia tak tahu, apakah mungkin nanti bintang itu bisa jatuh ke bumi sehingga ia bisa memilikinya. Ia hanya bisa berandai-andai. Hanya bisa mengaguminya, melihatnya dari jauh.
0 comments:
Post a Comment