Tuesday, June 19, 2012

Stagnansi

Mungkin memang seharusnya kita tidak usah bertemu mata lagi. Tak peduli berbagai ucapan salam basa-basi yang memang sepertinya harus dilakukan setiap momennya. Mungkin memang seharusnya kita tidak usah bertegur sapa lagi. Hujan yang mengalir di pipi ini terlihat seperti air mata. Atau kah itu memang air mata? Kalau kata penulis perempuan yang aku kagumi itu, aku tidak perlu menyalahkan siapa-siapa karena siapa-siapa itu tidak mempunyai kesalahan ontologis. Tapi sepertinya hanya aku yang tidak mau tahu tentang kesalahan ontologis itu. Atau kah aku yang terlalu pemaaf dan lemah untuk marah? Aku tidak tahu, tapi aku masih ingin menerjang siapa-siapa itu dan membuatnya tak bernyawa saat aku tahu bahwa sebentar lagi aku akan bertemu dia. Tapi setelah itu aku akan tersenyum dan tertawa. Ah, mengapa siapa-siapa itu begitu baik sehingga aku tidak bisa membencinya? Di tengah kekacauan yang aku rasakan sekarang, di tengah suasana cerah yang tidak membuat gerah, di tengah bintang-bintang yang bersinar terang, aku memilih untuk memutar lagu-lagu itu. Lagu-lagu multiinterpretasi yang sudah lama tidak aku dengar karena aku tahu, begitu aku mendengarnya, aku akan jatuh lagi. 


Tak perlu tertawa atau menangis pada gunung dan laut karena gunung dan laut tak punya rasa...


Mungkin malah aku yang tidak punya rasa saat ini. Mengapa harus menyalahkan gunung dan laut karena itu? Lalu berkata bahwa mereka yang tidak punya rasa, padahal yang tidak punya rasa adalah aku. Karena beberapa temanku berkata bahwa aku mulai tidak mempunyai rasa belakangan ini. Rasa hidup yang memancar seperti dulu. Rasa untuk menari dan bersenandung kecil di tengah lompatan-lompatan kecil.

Ya, kurasa aku harus mencoba untuk berlari walaupun itu tidak menyelesaikan masalah. Betapa ironisnya, padahal aku tahu, yang akan tersiksa pada akhirnya adalah aku sendiri. Karena aku tidak pernah tega melihat orang lain terluka karena aku. Karena aku butuh berlari.

0 comments: