Saturday, March 15, 2014

malam-malam berbicara

kemarin malam, sekitar pukul sepuluh, saya turun dari kamar saya menuju ruang keluarga. di depan tivi sedang ada bapak sama ibu ngobrol tentang suatu kasus. sambil lewat mau ngambil air minum, saya dengar bapak ngomong, "perempuannya (blablabla) laki-lakinya, ya kalau yang perempuannya nggak mau, ya nggak bakal kejadian."

saya kaget dengernya. bapak kok ngomong gitu? bapakku kan bukan laki-laki yang misoginis. bapak cuma minta dilayani di masalah pelayanan makanan dan kebersihan rumah tangga (buat saya itu tetap menyebalkan). kontan, saya nyeletuk, "loh, jadi perempuannya yang salah?" lalu bapak menjawab, "bukan. bapak bilang, perempuan sama laki-laki sama saja. kalau yang satu nggak ngeladeni, ya nggak bakal kejadian." mendengar itu saya cuma oh saja. saya pun melanjutkan mengambil air minum lalu duduk di meja makan sambil mengintip apa yang ada di dalam tudung saji.

lalu kami membicarakan kasusnya ss dan rw, serta gm dan au. hubungan-hubungan yang merugikan, tapi mungkin dengan pandangan lain, menguntungkan. "ya gimana, kerjaannya udah dieditin, udah dikasih macem-macem, nggak bisa nolak deh." kata saya. lalu bapak bilang, "makanya dek, kamu kalau dikasih macem-macem yang aneh-aneh, jangan mau." saya kagum sih sama ketegaran mereka menyikapi hal-hal yang (biasa) lewat di hidup mereka. ibu juga bilang, kalau kencan juga mending bayar sendiri-sendiri. biar setara. ya itu ada pengecualiannya sih, seperti mungkin beberapa hari besar kayak hari ulang tahun atau hari jadian yang notabene pada mau nraktir. ibu (dan bapak) saya itu feminis, tanpa mereka belajar feminisme. kalau kakak laki-laki saya belajar feminisme. dan dia menjadi laki-laki yang (kalau tidak disebut feminis) menghormati perempuan. kakak perempuan saya apalagi. tanpa sadar, saya sudah dididik seperti itu sejak saya masih kecil. saya sendiri masih belum berani bilang diri saya feminis. hanya belajar teori feminisme di kampus dua tahun, lalu saya sudah bilang bahwa saya feminis, lalu tiba-tiba berkelakuan bias gender itu...memalukan. haha! ibu bilang kalau ibu nggak suka sama feminis-feminis radikal yang membenci laki-laki. intinya hidup itu kan saling menghormati, menghargai, melayani.

kemudian, bapak pamit tidur karena besoknya harus bangun pagi. lalu, saya dan ibu bicara soal jokowi yang nyapres. terus ngobrol soal politik. ibu cerita, kalau dulu eyang bakri (bapaknya ibu) itu suka cerita soal politik pas ibu masih smp. katanya, eyang bakri bilang, nanti amerika sama soviet bersatu musuhin cina. eyang bakri itu memang orang politik. pernah jadi tahanan politik. eyang bakri juga cerita kalau nanti dunia ini nggak ada negaranya. semuanya jadi satu masyarakat. "karl marx.", saya bilang. "oh iya ya? ibu ga baca soalnya. ibu cuma tau, diceritain bapak.", kata ibu. ibu bilang, orang dulu kalau berpolitik itu bukan untuk nyari nafkah. nggak kayak banyak orang yang nyaleg sekarang. ya nggak bisa digeneralisasi juga sih. cuma kebanyakan begitu. "ibu bingung deh sama si xxx. dia nggak punya ideologi, nggak ngerti politik, mosok nyaleg. adeknya mending deh, dia emang orang partai yyy. walaupun ibu nggak suka ideologinya, seenggaknya dia punya titik berdiri yang jelas. lha sekarang, orang masuk partai biar dapet duit." itu keluhan yang sering banget saya dengar dari ibu. saya beruntung, punya ibu yang memiliki idealisme tinggi, yang membuat ibu susah untuk diinjak-injak orang-orang jahat.

terus kami diskusi soal agama. menurut saya, agama itu bukan suatu hal yang saklek (apa sih bahasa indonesianya?). agama itu hanya satu cara untuk menuju yang makro-kosmos. ibu pun bilang, manusia itu punya kebutuhan spiritual, apapun namanya, apapun caranya. ibu cerita, mbahnya ibu selalu nasihatin, kalau mau keluar rumah, di keset rumah tuh harus injak bumi tiga kali sambil ngomong apa gitu lupa. nah, kata ibu, seenggaknya dalam waktu tiga kali injak bumi, orang akan inget sama yang di atas. itu bukan masalah mitos atau menyembah berhala. itu masalah apakah kita mengingat bahwa ada yang lebih besar daripada kita. memang, saya suka bingung sama orang-orang yang bilang, kalau sudah kristen itu ga usah ada siraman segala. itu dosa. ya gimana ya, menurut saya sih, agama kristen juga ga bakal bisa dianut oleh orang indonesia kalau ga ada akulturasi dan asimilasi. maksud saya, itu budaya baik. banyak simbol di dalamnya. mengapa tidak dilestarikan?

hihihi.. berbicara banyak di meja makan saat malam hari itu selalu menyenangkan. apalagi setelah saya suka naik pitam sendiri saat saya menulis bab empat dan lima skripsi saya.

2 comments:

SKN said...

Hahahaha. Malam-malam berseliweran di blog dan ngebaca ini, entah kenapa bikin gue segeran, ti. Emak lo keren! Hahaha

prashasti wilujeng putri said...

Hehe.. Makasih suci :) Nyokap lo juga pasti keren :D tapi nyokap gue yang terkeren. Hahaha!