Paskah tahun ini memberikanku banyak refleksi dan pelajaran.
Pelajaran yang sudah aku ketahui dari kecil, tapi baru bisa aku maknai
sekarang. Terutama saat Kamis Putih. “Karena itu berdoalah demikian, ...
datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di sorga.” Maka aku
pun berdoa, “Ya Bapaku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada kami.
Tetapi bukanlah kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Selesai
kebaktian Malam Getsemani di Kamis Putih tersebut, ibu dan Pingkan pura-pura
tidak menyadari air mukaku yang berubah.
***
Konstruksi media mudah sekali membuat hampir semua orang
membutuhkan banyak hal yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Selera pasar itu
tidak ada, bukan? Pelaku pasar lah yang membentuk selera pasar. Macam foto
prewedding, handphone canggih, kulit putih, dan kebutuhan akan cinta yang
berbalas.
Saya sering sekali mendengar bahwa cinta itu tidak harus
memiliki. Tapi terus galau parah, sedih karena ga bisa memiliki. Katarsis.
Dengerin lagu-lagu sedih. Tenggelam dan menikmati keperihan ‘tidak bisa
memiliki cinta’. Kurang bullshit apa lagi coba? Konsep saya akan cinta itu
luas. Saya bisa jatuh cinta pada sebuah buku. Lalu, saat saya dibantu oleh
penjual masker di halte, saya merasa bahwa saya dicintai. Tapi ada sebuah
konsep yang dengan jelas memperlihatkan bahwa saya termakan oleh cinta komersil
ala film hollywood. Konsep cinta eros.
Kenyataan yang terjadi, yang ada, yang nyata adalah bahwa
status itu penting bagi masyarakat di mana saya tinggal ini. Saat saya sudah
memberi tahu dunia bahwa saya sudah punya pacar, tanggung jawab masyarakat akan
saya seakan berkurang. “Kamu tidak perlu lagi saya jaga. Kan ada pacarmu?” Di
lain pihak, tanggung jawab pacar saya akan saya menjadi bertambah. Konstruksi
soal pacar yang siap-antar-jaga. Kalau saya tidak diantar pulang, nanti
orang-orang akan berpikir, “Gimana sih pacarnya. Masak dibiarkan pulang sendiri
malam-malam?” Padahal, sebelum punya pacar toh saya bisa sendiri ke mana-mana.
Yang kedua, saat saya sedang tidak punya pacar, lalu saya
menyukai seseorang dengan sungguh, konstruksi yang ada menyuruh saya untuk
menuntut bahwa cinta saya harus berbalas. Padahal, ketika seseorang menikmati
suatu kebersamaan yang saling memberi makna dan manfaat jasmani dan rohani,
bukankah orang itu bahagia? Lagi pula, ketika cinta diformulasikan dalam sebuah
status, bukankah ada pengorbanan akan status yang lain? Lalu ketika status yang
baru itu terbentuk namun kemudian koyak lagi, bukankah itu akan membuat
pemusnahan banyak status, terlebih banyak peran? Tapi masyarakat menghujat hal
tersebut. Dikatakannya tidak jelas. Jadi, cinta harus dibalas, kemudian
didefinisikan. Karena katanya, ketika cinta seseorang terbalas, orang tersebut
akan menjadi orang yang sangat bahagia. Ya memang. Saya tidak bisa memungkiri
hal itu. Mana ada sih yang tidak bahagia dengan itu?
Namun kemudian ada satu konsep. Konsep merasakan dengan
bebas. Wahyu yang memberitahu saya soal ini: “Apa yang dirasakan, ya nyatakan
lah, lakukan lah. Orang lain yang menjadi subjeknya pun bebas untuk hanya
mengiyakan, mengamini, membalas, atau pergi. Karena saat aku mencintai dengan
sungguh, aku tidak akan mengharap bayaran apapun.” Lalu kalau kata mbak
Herlina, “Cinta itu membebaskan, bukan?” Kalau saya bilang begini: apabila saya
menginginkan orang lain untuk bersama-sama dengan saya, apapun itu namanya, saya
akan memakan orang itu dari dalam. Saya akan menggerogotinya. Saya senang. Tapi
apakah kebersamaan itu membuat saya bahagia sementara orang lain itu
pelan-pelan terbunuh?
***
Seperti kata Sapardi Djoko Damono dalam puisinya yang kamu
nyanyikan dengan gitar di bubungan atap, “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.”
Aku interpretasikan begini: sederhana, sesederhana itu sampai tidak butuh
institusi, tidak butuh definisi, tidak butuh balasan. Memang, “... biarkan
semua menjadi yang semestinya.”
0 comments:
Post a Comment