Wednesday, April 23, 2014

Konsep

Paskah tahun ini memberikanku banyak refleksi dan pelajaran. Pelajaran yang sudah aku ketahui dari kecil, tapi baru bisa aku maknai sekarang. Terutama saat Kamis Putih. “Karena itu berdoalah demikian, ... datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di sorga.” Maka aku pun berdoa, “Ya Bapaku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada kami. Tetapi bukanlah kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Selesai kebaktian Malam Getsemani di Kamis Putih tersebut, ibu dan Pingkan pura-pura tidak menyadari air mukaku yang berubah.

***

Konstruksi media mudah sekali membuat hampir semua orang membutuhkan banyak hal yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Selera pasar itu tidak ada, bukan? Pelaku pasar lah yang membentuk selera pasar. Macam foto prewedding, handphone canggih, kulit putih, dan kebutuhan akan cinta yang berbalas.
Saya sering sekali mendengar bahwa cinta itu tidak harus memiliki. Tapi terus galau parah, sedih karena ga bisa memiliki. Katarsis. Dengerin lagu-lagu sedih. Tenggelam dan menikmati keperihan ‘tidak bisa memiliki cinta’. Kurang bullshit apa lagi coba? Konsep saya akan cinta itu luas. Saya bisa jatuh cinta pada sebuah buku. Lalu, saat saya dibantu oleh penjual masker di halte, saya merasa bahwa saya dicintai. Tapi ada sebuah konsep yang dengan jelas memperlihatkan bahwa saya termakan oleh cinta komersil ala film hollywood. Konsep cinta eros.

Kenyataan yang terjadi, yang ada, yang nyata adalah bahwa status itu penting bagi masyarakat di mana saya tinggal ini. Saat saya sudah memberi tahu dunia bahwa saya sudah punya pacar, tanggung jawab masyarakat akan saya seakan berkurang. “Kamu tidak perlu lagi saya jaga. Kan ada pacarmu?” Di lain pihak, tanggung jawab pacar saya akan saya menjadi bertambah. Konstruksi soal pacar yang siap-antar-jaga. Kalau saya tidak diantar pulang, nanti orang-orang akan berpikir, “Gimana sih pacarnya. Masak dibiarkan pulang sendiri malam-malam?” Padahal, sebelum punya pacar toh saya bisa sendiri ke mana-mana.

Yang kedua, saat saya sedang tidak punya pacar, lalu saya menyukai seseorang dengan sungguh, konstruksi yang ada menyuruh saya untuk menuntut bahwa cinta saya harus berbalas. Padahal, ketika seseorang menikmati suatu kebersamaan yang saling memberi makna dan manfaat jasmani dan rohani, bukankah orang itu bahagia? Lagi pula, ketika cinta diformulasikan dalam sebuah status, bukankah ada pengorbanan akan status yang lain? Lalu ketika status yang baru itu terbentuk namun kemudian koyak lagi, bukankah itu akan membuat pemusnahan banyak status, terlebih banyak peran? Tapi masyarakat menghujat hal tersebut. Dikatakannya tidak jelas. Jadi, cinta harus dibalas, kemudian didefinisikan. Karena katanya, ketika cinta seseorang terbalas, orang tersebut akan menjadi orang yang sangat bahagia. Ya memang. Saya tidak bisa memungkiri hal itu. Mana ada sih yang tidak bahagia dengan itu?

Namun kemudian ada satu konsep. Konsep merasakan dengan bebas. Wahyu yang memberitahu saya soal ini: “Apa yang dirasakan, ya nyatakan lah, lakukan lah. Orang lain yang menjadi subjeknya pun bebas untuk hanya mengiyakan, mengamini, membalas, atau pergi. Karena saat aku mencintai dengan sungguh, aku tidak akan mengharap bayaran apapun.” Lalu kalau kata mbak Herlina, “Cinta itu membebaskan, bukan?” Kalau saya bilang begini: apabila saya menginginkan orang lain untuk bersama-sama dengan saya, apapun itu namanya, saya akan memakan orang itu dari dalam. Saya akan menggerogotinya. Saya senang. Tapi apakah kebersamaan itu membuat saya bahagia sementara orang lain itu pelan-pelan terbunuh?

***


Seperti kata Sapardi Djoko Damono dalam puisinya yang kamu nyanyikan dengan gitar di bubungan atap, “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.” Aku interpretasikan begini: sederhana, sesederhana itu sampai tidak butuh institusi, tidak butuh definisi, tidak butuh balasan. Memang, “... biarkan semua menjadi yang semestinya.”

0 comments: