Dan suatu kali, aku tidak bereaksi akan apapun yang
menyentuh tubuhku.
Kebencian tidak pernah menjadi sejarah.
Pun ia tak pernah muncul.
Aku menyanderanya dalam waktu.
Yang tak seorang pun tahu mengapa.
Kereta itu berlalu.
Kamu, terlalu subtil.
Gelaplah tanah tertutup pohon.
Yang tidak takut akan menemukan banyak bunga mawar.[1]
Dan kosong bukan berarti tidak ada isi.[2]
Bagaimana kamu ada tapi sekaligus tiada?
Sejauh apa?
Mungkin akan ada di sebelas perempatan berikutnya.
0 comments:
Post a Comment