Rembulan senja
Pelan muncul di ufuk barat
Aku duduk dan hanyut terbuai
Jalanan kota ini sepi. Sepertinya penduduknya sedang terbuai di rumah masing-masing. Mengisi kekosongan hati dengan keluarga masing-masing. Yang tidak punya rumah mungkin bisa singgah sebentar di rumah sahabatnya, bercengkrama, bercerita, bersenda gurau sehingga tidak merasa sepi lagi.
Oh bintang kejora
susul sang angin malam panjang
Aku diam dan hirup dalam nafas
Dapatkah aku melukis dikau
Jalanan kota ini sepi. Aku pun merasa kesepian sejak beranjak pulang ke tempat yang sunyi. Aku membutuhkan waktu untuk diriku sendiri. Tapi aku rasa sebelah diriku yang lain tidak menyukainya. Aku ingin berada dalam keramaian dan menjadi bagian di dalamnya. Tidak, aku tidak membutuhkan lampu sorot yang membuat aku menjadi pusat perhatian. Aku hanya ingin bercengkrama. Aku hanya ingin mendengarkan cerita sahabatku yang sedang jatuh cinta, sedih, ataupun marah. Aku hanya ingin menatap mata mereka yang penuh warna.
Wahai malam panjang
Tuntunlah penaku
melukis wajahmu
di dalam kalbu
Wahai malam panjang
Buailah diriku
Jalanan kota ini sepi. Angin berhembus dari arah barat. Di sini, di atas genting ini, aku dari tadi memandangi matahari yang terbenam dan pesonanya yang tak kunjung membosankan. Lalu apa yang terjadi? Sepi. Yang ada hanyalah segerombolan ulat menggeliat yang salah menginterpretasikan nada. Aku muak.
Binatang malam
Lirih mengisi sunyi damai
aku berdiri dengan takjub
Jalanan kota ini sepi. Krik krik krik... Kata ibuku, itu binatang yang hanya ada saat sepi. Saat ada orang mendekat, suaranya akan hilang. Sebelum tidur, ibu biasanya akan menceritakan berbagai hal lain yang terjadi pada malam hari. Mulai dari cerita bunga mawar dan bunga melati sampai hal-hal ilmiah yang terjadi secara alamiah di bumi ini. Lalu aku akan tertidur.
Oh langit malam
Payungi gugusan bintang kecil
aku terpejam mengucap doa
dapatkah aku melukis dikau
-Nugie, Pelukis Malam
0 comments:
Post a Comment