Monday, December 02, 2013

Memahami Kondom?

Siang ini saya tergelitik dengan status-status facebook yang menolak kampanye Pekan Kondom Nasional 2013 dengan membagi-bagikan kondom gratis. Orang-orang di timeline facebook itu berpendapat bahwa pembagian kondom gratis malah melegalisasi seks bebas, dan itu adalah tindakan orang tidak beragama.

Hmm mungkin lebih dulu saya harus memberi tahu konsep saya tentang seks bebas. Seks bebas menurut saya adalah berhubungan seks dengan sembarang orang, seperti one night stand. Kalau seseorang berhubungan seksual dengan kekasihnya masing-masing, menurut saya itu bukan seks bebas. Asal keduanya sama-sama mau, suka, nyaman, aman, dan sadar konsekuensi dan risikonya.

Saya sendiri menolak seks bebas karena hal itu berbahaya. Tapi toh kita harus menghadapi kenyataan bahwa perilaku seks bebas bertebaran di mana-mana. Tidak usah jauh-jauh, di lingkaran kampus saya saja banyak kok pelaku seks bebas, dan banyak dari mereka yang tidak suka menggunakan kondom. Ajaran agama, nilai adat, norma, dan sebagainya diberikan sebagai upaya pemberantasan secara sosial di hulu. Tapi kita toh harus melihat bahwa di sini perlu pencegahan situasional untuk masalah ini, bukannya hanya mengharamkan dan mengecam pelakunya. Pencegahan situasionalnya ya dengan kondom. Kondom itu kan berfungsi untuk meminimalisasi penularan HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya.

Imbauan untuk menggunakan kondom dalam rangka safe sex ini menurut saya bagus. Coba pikir soal orang-orang di pelabuhan, anak buah kapal, orang-orang di pertambangan minyak, orang-orang di tempat pelacuran, dan sebagainya. Bagaimana kalau mereka berhubungan seksual dengan sembarang orang tanpa mengunakan kondom? Penyakit-penyakit akan dengan leluasa hinggap ke mana-mana.

Ketika saya mencari berita-berita tentang pembagian kondom gratis ini, susah sekali mencari yang setuju. Rupanya media massa lebih ingin menekankan bahwa pembagian kondom gratis ini merupakan hal yang salah menurut masyarakat. Opini setuju atas pembagian kondom gratis ini kurang di-blow up oleh media massa. Saat saya membaca berita-berita tersebut, rupanya pihak penyelenggara acara kampanye ini bertujuan baik, bahwa untuk meminimalisasi penularan penyakit menular karena hubungan seks, masyarakat diimbau untuk memakai kondom. Tapi, sepertinya kebijakan ini tidak bijak. (Saya mengatakan tidak bijak bukan karena saya berpendapat bahwa dengan kampanye ini, Indonesia jadi digambarkan sebagai negara penganut seks bebas :p) Pembagian kondom tanpa ada upaya lain untuk mendukung tidak akan menyelesaikan masalah. Upaya lain itu maksudnya seperti selebaran, artikel, poster, atau bahkan talk show, penyuluhan, dan seminar tentang edukasi seks. Selain itu, dengan tidak adanya program lanjutan dan dukungan dari pihak sekolah dan keluarga akan membuat kampanye ini sia-sia. Pembagian kondom gratis yang dilakukan secara bebas malah bisa salah sasaran. Remaja dan anak-anak bisa saja mendapatkan kondom gratis tersebut, namun mereka tidak mempunyai edukasi seks yang baik sebelumnya. Tidak bisa dipungkiri, kenyataannya sekarang banyak orang tua yang tidak memberikan edukasi seks yang baik kepada anak-anaknya, dan malah menabukan hal tersebut. Padahal, edukasi seks dari orang tua itu sangat penting. Akan lebih bahaya kalau anak-anak belajar mengenai seks dari teman-temannya yang informasinya belum tentu benar. Pembagian kondom gratis yang tidak didukung oleh edukasi seks yang baik tidak akan memecahkan masalah penularan penyakit seksual.

Berbicara soal edukasi seks, saya bersyukur sekali mempunyai keluarga yang terbuka dengan hal-hal seksual. Waktu SD, saya pernah membaca sampul majalah yang ada tulisan “ereksi”. Lantas, saya bertanya kepada ibu, “Bu, ereksi itu apa?”. Dengan tenang, santai, tapi terlihat sangat serius dan peduli dengan pertanyaan saya, ibu menjawab, “Kalau laki-laki sedang nafsu, ingin berhubungan seks, kelaminnya akan tegang supaya bisa masuk ke kelamin perempuan. Nah, saat kelaminnya tegang itu disebut ereksi.” Saya pun akhirnya mengerti. Lalu, saya juga teringat, pernah suatu malam, saya berdiskusi dengan kakak perempuan saya soal seksualitas. Kemudian, saya juga teringat bahwa kakak laki-laki saya sedang mengajari kedua anak balitanya soal pelajaran seks paling mendasar: kelamin mana yang bernama vagina, dan kelamin mana yang bernama penis. :)

Kembali lagi ke pembagian kondom gratis. Sebenarnya, menurut saya, pembagian kondom yang bebas ini mungkin dilatarbelakangi oleh kebingungan pihak penyelenggara dalam hal tempat. Di mana kah tempat penting untuk dibagikan kondom gratis di kota besar seperti Jakarta ini? Sekarang ini tempat prostitusi tersebar di mana-mana. Tidak ada lokalisasi seperti zaman Bang Ali dulu. Padahal, dengan adanya lokalisasi, orang-orang kesehatan akan lebih mudah melakukan penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan sebulan sekali misalnya, lalu kampanye penggunaan kondom akan lebih mudah dilakukan. Selain itu, kontrol sosial akan lebih mudah dilakukan. Orang-orang akan bisa melihat siapa saja yang datang ke tempat itu. Akan terlihat apabila ada anak-anak atau suami yang ingin “jajan” datang ke lokalisasi. Di samping itu, tempat itu bisa diberi pajak mahal agar pebisnis seks itu harus membayar mahal kepada pemerintah.

Sambil menulis ini, saya jadi teringat saat saya pergi ke Prancis. Di sana ada boks yang ditempel ke dinding, seperti telepon umum. Ternyata, boksnya itu berisi kondom. Apabila ingin mengambil, harus memasukan sejumlah uang. Kenapa ya di Indonesia tidak dibikin seperti itu saja? Malahan, banyak yang menentang dengan alasan tidak beragama karena mendukung seks bebas. Apakah pemasangan boks kondom berarti mencerminkan bahwa orang Indonesia tidak mempunyai moral dan etika, serta tidak menganut nilai “ketimuran”? Toh, kondom bukan media ajakan seks bebas. Kondom adalah alat kesehatan. Dan, seperti yang saya sudah paparkan, dengan adanya pemasangan boks di ruang publik, kontrol sosial akan lebih mudah dilakukan. Konsumen kondom akan lebih jelas kelihatan.

Ayo lah, seks bukan hal yang tabu. Seks itu bagian dari kehidupan. Bicarakan dan diskusikan dengan terbuka, dan dengan pikiran yang terbuka juga tentunya. :D

PS: Pertama kali saya menyentuh kondom adalah saat teman sekelas saya saat kelas dua SMP iseng membawa kondom ke sekolah untuk dijadikan tempat pensil.

0 comments: