Hmm mungkin lebih dulu saya harus memberi tahu konsep saya
tentang seks bebas. Seks bebas menurut saya adalah berhubungan seks dengan
sembarang orang, seperti one night stand.
Kalau seseorang berhubungan seksual dengan kekasihnya masing-masing, menurut
saya itu bukan seks bebas. Asal keduanya sama-sama mau, suka, nyaman, aman, dan
sadar konsekuensi dan risikonya.
Saya sendiri menolak seks bebas karena hal itu berbahaya. Tapi
toh kita harus menghadapi kenyataan bahwa perilaku seks bebas bertebaran di
mana-mana. Tidak usah jauh-jauh, di lingkaran kampus saya saja banyak kok
pelaku seks bebas, dan banyak dari mereka yang tidak suka menggunakan kondom. Ajaran
agama, nilai adat, norma, dan sebagainya diberikan sebagai upaya pemberantasan
secara sosial di hulu. Tapi kita toh harus melihat bahwa di sini perlu
pencegahan situasional untuk masalah ini, bukannya hanya mengharamkan dan
mengecam pelakunya. Pencegahan situasionalnya ya dengan kondom. Kondom itu kan berfungsi
untuk meminimalisasi penularan HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya.
Imbauan untuk menggunakan kondom dalam rangka safe sex ini menurut saya bagus. Coba
pikir soal orang-orang di pelabuhan, anak buah kapal, orang-orang di
pertambangan minyak, orang-orang di tempat pelacuran, dan sebagainya. Bagaimana
kalau mereka berhubungan seksual dengan sembarang orang tanpa mengunakan
kondom? Penyakit-penyakit akan dengan leluasa hinggap ke mana-mana.
Ketika saya mencari berita-berita tentang pembagian kondom
gratis ini, susah sekali mencari yang setuju. Rupanya media massa lebih ingin
menekankan bahwa pembagian kondom gratis ini merupakan hal yang salah menurut
masyarakat. Opini setuju atas pembagian kondom gratis ini kurang di-blow up oleh media massa. Saat saya
membaca berita-berita tersebut, rupanya pihak penyelenggara acara kampanye ini
bertujuan baik, bahwa untuk meminimalisasi penularan penyakit menular karena
hubungan seks, masyarakat diimbau untuk memakai kondom. Tapi, sepertinya
kebijakan ini tidak bijak. (Saya mengatakan tidak bijak bukan karena saya
berpendapat bahwa dengan kampanye ini, Indonesia jadi digambarkan sebagai
negara penganut seks bebas :p) Pembagian kondom tanpa ada upaya lain untuk
mendukung tidak akan menyelesaikan masalah. Upaya lain itu maksudnya seperti
selebaran, artikel, poster, atau bahkan talk
show, penyuluhan, dan seminar tentang edukasi seks. Selain itu, dengan
tidak adanya program lanjutan dan dukungan dari pihak sekolah dan keluarga akan
membuat kampanye ini sia-sia. Pembagian kondom gratis yang dilakukan secara bebas
malah bisa salah sasaran. Remaja dan anak-anak bisa saja mendapatkan kondom
gratis tersebut, namun mereka tidak mempunyai edukasi seks yang baik
sebelumnya. Tidak bisa dipungkiri, kenyataannya sekarang banyak orang tua yang
tidak memberikan edukasi seks yang baik kepada anak-anaknya, dan malah
menabukan hal tersebut. Padahal, edukasi seks dari orang tua itu sangat
penting. Akan lebih bahaya kalau anak-anak belajar mengenai seks dari teman-temannya
yang informasinya belum tentu benar. Pembagian kondom gratis yang tidak
didukung oleh edukasi seks yang baik tidak akan memecahkan masalah penularan
penyakit seksual.
Berbicara soal edukasi seks, saya bersyukur sekali mempunyai keluarga
yang terbuka dengan hal-hal seksual. Waktu SD, saya pernah membaca sampul
majalah yang ada tulisan “ereksi”. Lantas, saya bertanya kepada ibu, “Bu,
ereksi itu apa?”. Dengan tenang, santai, tapi terlihat sangat serius dan peduli
dengan pertanyaan saya, ibu menjawab, “Kalau laki-laki sedang nafsu, ingin
berhubungan seks, kelaminnya akan tegang supaya bisa masuk ke kelamin
perempuan. Nah, saat kelaminnya tegang itu disebut ereksi.” Saya pun akhirnya
mengerti. Lalu, saya juga teringat, pernah suatu malam, saya berdiskusi dengan
kakak perempuan saya soal seksualitas. Kemudian, saya juga teringat bahwa kakak
laki-laki saya sedang mengajari kedua anak balitanya soal pelajaran seks paling
mendasar: kelamin mana yang bernama vagina, dan kelamin mana yang bernama
penis. :)
Kembali lagi ke pembagian kondom gratis. Sebenarnya, menurut
saya, pembagian kondom yang bebas ini mungkin dilatarbelakangi oleh kebingungan
pihak penyelenggara dalam hal tempat. Di mana kah tempat penting untuk
dibagikan kondom gratis di kota besar seperti Jakarta ini? Sekarang ini tempat
prostitusi tersebar di mana-mana. Tidak ada lokalisasi seperti zaman Bang Ali
dulu. Padahal, dengan adanya lokalisasi, orang-orang kesehatan akan lebih mudah
melakukan penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan sebulan sekali misalnya,
lalu kampanye penggunaan kondom akan lebih mudah dilakukan. Selain itu, kontrol
sosial akan lebih mudah dilakukan. Orang-orang akan bisa melihat siapa saja
yang datang ke tempat itu. Akan terlihat apabila ada anak-anak atau suami yang
ingin “jajan” datang ke lokalisasi. Di samping itu, tempat itu bisa diberi
pajak mahal agar pebisnis seks itu harus membayar mahal kepada pemerintah.
Sambil menulis ini, saya jadi teringat saat saya pergi ke
Prancis. Di sana ada boks yang ditempel ke dinding, seperti telepon umum.
Ternyata, boksnya itu berisi kondom. Apabila ingin mengambil, harus memasukan
sejumlah uang. Kenapa ya di Indonesia tidak dibikin seperti itu saja? Malahan,
banyak yang menentang dengan alasan tidak beragama karena mendukung seks bebas.
Apakah pemasangan boks kondom berarti mencerminkan bahwa orang Indonesia tidak
mempunyai moral dan etika, serta tidak menganut nilai “ketimuran”? Toh, kondom bukan media ajakan seks bebas. Kondom adalah alat kesehatan. Dan,
seperti yang saya sudah paparkan, dengan adanya pemasangan boks di ruang publik, kontrol sosial akan lebih mudah dilakukan.
Konsumen kondom akan lebih jelas kelihatan.
Ayo lah, seks bukan hal yang tabu. Seks itu bagian dari
kehidupan. Bicarakan dan diskusikan dengan terbuka, dan dengan pikiran yang
terbuka juga tentunya. :D
PS: Pertama kali saya menyentuh kondom adalah saat teman sekelas saya saat kelas dua SMP iseng membawa kondom ke sekolah untuk dijadikan tempat pensil.
0 comments:
Post a Comment