Kita berada pada satu kota. Kota yang, yah bukan New York
yang tidak pernah mati, tapi menyimpan berbagai macam kehidupan. Selalu ada
lapis-lapis kehidupan yang tidak akan pernah manusia mengerti. Berbagai tingkat
kedalaman yang tidak akan bisa manusia lampaui.
Kita berada pada satu kota. Kota di mana aku dilahirkan. Tapi
aku merasa tidak sedang di rumah.
“Bu, kalau susah ga ada kerjaan gini, kenapa dateng ke
Jakarta?”
“Yah elah neng, Jakarta mah kayak sayur pare. Pait, tapi
masih bisa dimakan. Lah kalo di kampung mah paitnya ga bisa dimakan lagi udah.”
Sungguh aku ingin gila. Paling enak menyalahkan negara,
memang. Tapi tidak semudah itu, nona.
“Ibu, suami ibu kerja apa?”
“Ga kerja neng. Cuma jadi kuli panggul doang.”
Bu, itu bekerja kok. Membuat hidup berarti. Karena bekerja
membuat manusia menemukan dirinya. Bekerja membuat manusia mengaktualisasikan
dirinya. Begitu kata Hegel. Memang ada yang bekerja tanpa pilihan untuk
menyambung hidupnya dan anak-anaknya. Tapi bukankah itu namanya juga memberikan
arti bagi hidupnya dan mengaktualisasikan dirinya dalam perannya sebagai orang
tua?
“Berasa banget kan. Kita [baru akan dianggap] hidup kalau
sudah sampai [pada] fase kerja yang pada umumnya.”
Masyarakat tidak mengerti, bahwa ada orang-orang yang
melakukan apa yang mereka cintai sebagai pekerjaan.
Semoga idealisme ini akan terus ada dan mekar.
Sungguh, aku ingin
pulang ke tempat idealisme itu masih mekar dan selalu segar.
0 comments:
Post a Comment