Wednesday, July 02, 2014

Rindu Pulang

Kita berada pada satu kota. Kota yang, yah bukan New York yang tidak pernah mati, tapi menyimpan berbagai macam kehidupan. Selalu ada lapis-lapis kehidupan yang tidak akan pernah manusia mengerti. Berbagai tingkat kedalaman yang tidak akan bisa manusia lampaui.

Kita berada pada satu kota. Kota di mana aku dilahirkan. Tapi aku merasa tidak sedang di rumah.

“Bu, kalau susah ga ada kerjaan gini, kenapa dateng ke Jakarta?”
“Yah elah neng, Jakarta mah kayak sayur pare. Pait, tapi masih bisa dimakan. Lah kalo di kampung mah paitnya ga bisa dimakan lagi udah.”

Sungguh aku ingin gila. Paling enak menyalahkan negara, memang. Tapi tidak semudah itu, nona.

“Ibu, suami ibu kerja apa?”
“Ga kerja neng. Cuma jadi kuli panggul doang.”

Bu, itu bekerja kok. Membuat hidup berarti. Karena bekerja membuat manusia menemukan dirinya. Bekerja membuat manusia mengaktualisasikan dirinya. Begitu kata Hegel. Memang ada yang bekerja tanpa pilihan untuk menyambung hidupnya dan anak-anaknya. Tapi bukankah itu namanya juga memberikan arti bagi hidupnya dan mengaktualisasikan dirinya dalam perannya sebagai orang tua?

“Berasa banget kan. Kita [baru akan dianggap] hidup kalau sudah sampai [pada] fase kerja yang pada umumnya.”

Masyarakat tidak mengerti, bahwa ada orang-orang yang melakukan apa yang mereka cintai sebagai pekerjaan.

Semoga idealisme ini akan terus ada dan mekar.


Sungguh, aku ingin pulang ke tempat idealisme itu masih mekar dan selalu segar.

0 comments: