Kembali mencari, ia berlari.
Kali ini ia menemukannya di kumpulan tanaman obat-obatan.
Ataukah mungkin, ia lah yang ditemukan oleh jiwanya?
Apa yang terjadi?
Si pemanah takut menghampirinya.
Tapi kaki pun tetap melangkah.
SI pemanah ketakutan.
Tapi tangan tetap meraba jalan.
Si pemanah gentar hatinya.
Tapi mata tetap ke tujuan.
Ia rasa tepat.
Kali ini bidikannya cukup bijaksana.
Jiwanya ia temukan dalam domba jantan yang bebas.
Sungguh liar, si pemanah tak mengerti.
Sudah seribu tahunkah si domba jantan sudah berkelana?
Dalam sekali matanya, menyiratkan banyak hal.
Ingin tahu akan banyak hal.
Tanduknya menyeruduk sana-sini.
Tubuhnya bergerak membentuk irama.
Membentuk kebahagiaan.
Mengingatkan akan kesatuan manusia dan alam.
Menyalakan api dan memberi energi.

0 comments:
Post a Comment