Friday, October 31, 2014

Recently



As if whales had gone from the sea
It seemed the clouds pulled from the sky
And laid upon the beach so breathlessly
And patiently waited to die

I often wake up in the morning so breathlessly, indeed, as if I was the whale which laid on the beach. If that is because of a dream I dreamt the night before, hmm I don’t think so. Sepertinya gue kekurangan oksigen. Atau paru-paru gue yang sudah tidak berfungsi lantaran setiap malam gue harus menarik napas lebih dalam dari biasanya karena batang tenggorok dan kerongkongan gue tersumbat? Tersumbat oleh rasa sedih dan marah, dan juga rasa senang dan excitement yang tidak terhingga. Gue jadi inget, Ibu pernah cerita kalau dulu pas bayi, gue punya asma. Dan gue baru kena asma lagi pas naik Pangrango. Waktu itu gue hampir sampai puncak sama temen-temen. Seperti biasa, kalau mau sendirian, gue tinggal diam saja dan asyik dengan dunia gue sendiri. You know, gue nggak perlu jauh-jauh ke pantai kemudian belok ke hutan yang kepadatan penduduknya sedikit hanya untuk menyendiri dan nggak bisa dihubungi orang lain. I can be idle anytime I want to be, wherever it is, even with many people around. I can make my distance so far, unreachable when it is needed, without locking myself up in my room alone. Di saat itu lah gue mau menangis memikirkan sesuatu, dan saking emosionalnya, gue nggak bisa nafas dan ngeluarin bunyi “ngiik...ngiiik.” Kayak babi. Serem amat hahaha. Di situ Ajong langsung ngelepasin tas gue dan ngebawain untuk beberapa saat. Sial gue cupu. Tapi serius, itu gue takut banget. Gue belum mau mati, men. Revisi skripsi gue belum kelar waktu itu. Kalau gue mati, nama gue nggak terdaftar sebagai lulusan Kriminologi FISIP UI dong. Hahaha berasa keren.

Before the rising sun we fly
So many roads to choose
We start out walking and learn to run
And yes, we’ve just begun

Nah terus pendakian kedua gue itu ke Papandayan. Kalau kata Bang Padang, itu bukan daki, itu hiking. Bodo deh, gue cuma mau kabur dari Jakarta sebentar, haha-hehe, merenung mencari kesunyian, bersatu dengan alam *ciyeee*, menjalin hubungan lebih intim dengan tiga orang temen gue yang naik Papandayan juga hahah. Gue emang bilang ke Bang Padang, “Bang, gue mau naik Papandayan, tapi nggak mau banyak-banyak. 4-6 orang aja.” Itung-itung gue jadi client percobaannya Bang Padang dengan Sameri Adventure-nya dia kan ye. Akhirnya yang berangkat adalah gue, Bang Padang, Mulki, dan Yunia. Ternyata pas sampe di Kampung Rambutan, banyak banget pendaki yang mau naik Papandayan juga. Bener dong, pas sampe Camp David, pendakinya buanyuaaaak buangggeeet! Sial, nyari kesunyian apaan nih kayak gini. Bang Padang udah berkali-kali bilang “Pantek.” sama “Salah feeling lo, Ti.” Gue, Yunia, sama Mulki udah ketawa-ketawa bego aja. Yaudah nggak apa-apa. Di atas, gue ketemu sama rombongan anak Krim 2011, ada enam orang. Terus kita bareng-bareng deh. Di Papandayan gue sama sekali nggak asma. Jadi mungkin itu faktor ketinggian aja kali ya.

Ternyata dong, saudara-saudara sebangsa dan setanah air, kami berempat sepertinya naik gunung hanya karena ingin lari dari realita di Jakarta yang bikin gundah gulana. Nggak tau sih bener apa enggak, tapi itu baru gua simpulkan pas udah sampe di Jakarta dan kehidupan sudah berjalan seperti biasa selama beberapa hari. Hal itu dibuktikan dengan adanya (kebiasaan nulis tulisan akademis kayak gini nih) chat dari salah satu dari mereka yang bilang kalau dia dan pacarnya “break”.

So when you sail across the ocean waters
And you reach the other side safely
Coul you smile a little smile for me?
‘Cause I’ll be thinkin’ about you

What is “break” actually? Dulu, sebelum gue sama mantan gue putus, mantan gue minta “kita break aja” saat gue minta “kita break up ya”. Jadi “break” semacam istirahat gitu? Jadi masih jadian tapi nggak berhubungan tapi nggak putus? Ada ya konsep kayak gitu? Ya gue tau sih konsep itu ada. Gue tau dari majalah Kawanku atau majalah Gadis yang gue lahap jaman SMA di antara setumpuk majalah Intisari dan surat kabar Kompas yang juga gue lahap. Harus seimbang toh? Haha. Tapi well, ada ya istirahat untuk suatu komitmen? Buat gue, komitmen itu full-time job. Don’t apply if you’re not ready! So, no! I answered no untuk ajakan “kita break aja”. Pacaran ya pacaran, break up ya break up. Jadi, gue simpulkan teman gue itu putus dengan pacarnya. “Let’s eat ice cream!” gue bilang ke teman gue itu. Terus dia ketawa dan bilang “HIDUP MASIH PANJANG COY. S2 YUK TI!” Dalam hati, gue mengamini. Gue mungkin akan banyak berpergian beberapa bulan dan beberapa tahun ke depan. Mengejar mimpi dan cita-cita. Tapi hati gue tidak ada di tempat yang sama dengan tubuh yang gue tempati ini. Mengarungi lautan, kalau kata kak Philip. Siapa tau ada yang sudah memantapkan hati dan kembali pulang nyari gue. Di mana pun gue, gue hanya sejauh koneksi internet dan surat elektronik bukan?

And there no more point in asking about you
Cause the news doesn't travel in the same old way
Since you have moved along




1: Dark Dark Dark – A Cloud Story
2: The Carpenters – We’ve Only Just Begun
3: Norah Jones – Thinkin’ About You

4: Dark Dark Dark – Benefit of the Doubt

0 comments: