As if whales had gone from the sea
It seemed the clouds pulled from the sky
And laid upon the beach so breathlessly
And patiently waited to die
It seemed the clouds pulled from the sky
And laid upon the beach so breathlessly
And patiently waited to die
I often wake up in the morning so breathlessly, indeed,
as if I was the whale which laid on the beach. If that is because of a dream I
dreamt the night before, hmm I don’t think so. Sepertinya gue kekurangan
oksigen. Atau paru-paru gue yang sudah tidak berfungsi lantaran setiap malam
gue harus menarik napas lebih dalam dari biasanya karena batang tenggorok dan
kerongkongan gue tersumbat? Tersumbat oleh rasa sedih dan marah, dan juga rasa
senang dan excitement yang tidak terhingga. Gue jadi inget, Ibu pernah cerita
kalau dulu pas bayi, gue punya asma. Dan gue baru kena asma lagi pas naik
Pangrango. Waktu itu gue hampir sampai puncak sama temen-temen. Seperti biasa,
kalau mau sendirian, gue tinggal diam saja dan asyik dengan dunia gue sendiri. You
know, gue nggak perlu jauh-jauh ke pantai kemudian belok ke hutan yang
kepadatan penduduknya sedikit hanya untuk menyendiri dan nggak bisa dihubungi
orang lain. I can be idle anytime I want to be, wherever it is, even with many people around. I can make my
distance so far, unreachable when it is needed, without locking myself up in my
room alone. Di saat itu lah gue mau menangis memikirkan sesuatu, dan saking
emosionalnya, gue nggak bisa nafas dan ngeluarin bunyi “ngiik...ngiiik.” Kayak
babi. Serem amat hahaha. Di situ Ajong langsung ngelepasin tas gue dan
ngebawain untuk beberapa saat. Sial gue cupu. Tapi serius, itu gue takut
banget. Gue belum mau mati, men. Revisi skripsi gue belum kelar waktu itu. Kalau
gue mati, nama gue nggak terdaftar sebagai lulusan Kriminologi FISIP UI dong.
Hahaha berasa keren.
Before
the rising sun we fly
So many roads to choose
We start out walking and learn to run
And yes, we’ve just begun
So many roads to choose
We start out walking and learn to run
And yes, we’ve just begun
Nah terus pendakian kedua gue itu ke Papandayan. Kalau
kata Bang Padang, itu bukan daki, itu hiking. Bodo deh, gue cuma mau kabur dari
Jakarta sebentar, haha-hehe, merenung mencari kesunyian, bersatu dengan alam
*ciyeee*, menjalin hubungan lebih intim dengan tiga orang temen gue yang naik
Papandayan juga hahah. Gue emang bilang ke Bang Padang, “Bang, gue mau naik
Papandayan, tapi nggak mau banyak-banyak. 4-6 orang aja.” Itung-itung gue jadi
client percobaannya Bang Padang dengan Sameri Adventure-nya dia kan ye.
Akhirnya yang berangkat adalah gue, Bang Padang, Mulki, dan Yunia. Ternyata pas
sampe di Kampung Rambutan, banyak banget pendaki yang mau naik Papandayan juga.
Bener dong, pas sampe Camp David, pendakinya buanyuaaaak buangggeeet! Sial,
nyari kesunyian apaan nih kayak gini. Bang Padang udah berkali-kali bilang “Pantek.”
sama “Salah feeling lo, Ti.” Gue, Yunia, sama Mulki udah ketawa-ketawa bego
aja. Yaudah nggak apa-apa. Di atas, gue ketemu sama rombongan anak Krim 2011,
ada enam orang. Terus kita bareng-bareng deh. Di Papandayan gue sama sekali
nggak asma. Jadi mungkin itu faktor ketinggian aja kali ya.
Ternyata dong, saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
kami berempat sepertinya naik gunung hanya karena ingin lari dari realita di
Jakarta yang bikin gundah gulana. Nggak tau sih bener apa enggak, tapi itu baru
gua simpulkan pas udah sampe di Jakarta dan kehidupan sudah berjalan seperti
biasa selama beberapa hari. Hal itu dibuktikan dengan adanya (kebiasaan nulis tulisan
akademis kayak gini nih) chat dari salah satu dari mereka yang bilang kalau dia
dan pacarnya “break”.
So
when you sail across the ocean waters
And you reach the other side safely
Coul you smile a little smile for me?
‘Cause I’ll be thinkin’ about you
And you reach the other side safely
Coul you smile a little smile for me?
‘Cause I’ll be thinkin’ about you
What is “break” actually? Dulu, sebelum gue sama mantan
gue putus, mantan gue minta “kita break aja” saat gue minta “kita break up ya”.
Jadi “break” semacam istirahat gitu? Jadi masih jadian tapi nggak berhubungan
tapi nggak putus? Ada ya konsep kayak gitu? Ya gue tau sih konsep itu ada. Gue
tau dari majalah Kawanku atau majalah Gadis yang gue lahap jaman SMA di antara
setumpuk majalah Intisari dan surat kabar Kompas yang juga gue lahap. Harus
seimbang toh? Haha. Tapi well, ada ya istirahat untuk suatu komitmen? Buat gue,
komitmen itu full-time job. Don’t apply if you’re not ready! So, no! I answered
no untuk ajakan “kita break aja”. Pacaran ya pacaran, break up ya break up.
Jadi, gue simpulkan teman gue itu putus dengan pacarnya. “Let’s eat ice cream!”
gue bilang ke teman gue itu. Terus dia ketawa dan bilang “HIDUP MASIH PANJANG
COY. S2 YUK TI!” Dalam hati, gue mengamini. Gue mungkin akan banyak berpergian
beberapa bulan dan beberapa tahun ke depan. Mengejar mimpi dan cita-cita. Tapi
hati gue tidak ada di tempat yang sama dengan tubuh yang gue tempati ini. Mengarungi
lautan, kalau kata kak Philip. Siapa tau ada yang sudah memantapkan hati dan
kembali pulang nyari gue. Di mana pun gue, gue hanya sejauh koneksi internet
dan surat elektronik bukan?
And there no more point in asking about you
Cause the news doesn't travel in the same old way
Since you have moved along
Cause the news doesn't travel in the same old way
Since you have moved along
1:
Dark Dark Dark – A Cloud Story
2:
The Carpenters – We’ve Only Just Begun
3:
Norah Jones – Thinkin’ About You
4:
Dark Dark Dark – Benefit of the Doubt

0 comments:
Post a Comment