Daerah itu bernama Salemba. Ibu bertemu Bapak di sana. Di
rumah sakit tempat mereka bekerja. Di rumah sakit yang menjadi inspirasi
penyanyi jadul bernama Rani. Sint Carolus. Bertemu, berkenalan, mungkin makan
siang bersama. Menjalin kasih lalu melahirkan aku dan kakak-kakakku.
Aku selalu ingat rutenya. Pinang Ranti, lalu masuk tol.
Keluar di Rawamangun. Melewati Pasar Genjing, belok kanan ke Salemba. Atau dari
Pinang Ranti ke arah Jalan Raya Bogor, lalu ke Cililitan. Masuk Dewi Sartika,
Otista, Kampung Melayu, Matraman, baru ke Salemba.
Aku suka sekali ke rumah sakit itu. Bau obat. Bau Ibu. Kalau
aku ke sana, alasannya selain karena sakit adalah karena ingin bermain. Tiap
minggunya, ibu selalu membeli majalah Bobo. Tapi sejak aku kelas 4 SD, ibu
sudah berhenti berlangganan soalnya lebih banyak iklannya dan isinya tidak
sebagus dulu. Lagian, aku juga sudah bosan dengan Bobo.
Saat aku SMA, aku berangkat naik bus yang rutenya melewati
Salemba. Kadang-kadang pulang juga lewat Salemba. Kata orang-orang,
Salemba-Lubang Buaya itu jauh. Kata aku, itu cukup dekat. Apalah arti jarak
kalau diri ini ingin melampaui jarak itu untuk bertemu yang terkasih?
Makin aku besar, nilai Salemba semakin tinggi buatku. Di
situ ada universitas negeri yang bagus, dan aku baru saja lulus dari situ (beda
kampus sih, tapi untuk beberapa hal, aku harus ke sana). Di sana juga ada pusat
kebudayaan Prancis yang sebentar lagi akan pindah ke Thamrin. Di pusat
kebudayaan itu, aku menemukan banyak hal. Lalu, dari arah Senen menuju Salemba,
ada jalan ke kiri, ke arah Rawasari. Lurus saja, melewati rel kereta api dan
penjara. Dulu daerah itu aku kunjungi hanya setahun sekali untuk menengok nenek
yang dulu merawat Bapak. Sekarang, daerah itu lumayan sering kukunjungi. Di
Rawasari itu juga lah aku bertemu sebagian buku untuk diambil sarinya lalu
menjadi skripsi. Buku yang mempertemukanku dengan kekasihku.
Salemba dekat dengan Matraman, yang ada toko buku Gramedia
yang besar. Dulu, hampir tiga bulan sekali, Bapak mengantarku ke Gramedia
Matraman untuk membeli buku ataupun hanya sekadar melihat-lihat. Salemba dekat
dengan Cikini yang ada tempat berkumpulnya kesenian-kesenian dan tempat makan
enak. Kakakku suka mengajak aku menonton teater atau makan bertemu
teman-temanya di sana. Jalan kaki malam-malam dari Cikini menuju Salemba,
ditemani obrolan-obrolan ataupun khayalan itu menyenangkan.
Daerah itu bernama Salemba. Banyak memori di sana, dan akan
bertambah banyak lagi.

0 comments:
Post a Comment