Thursday, September 25, 2014

Salemba



Daerah itu bernama Salemba. Ibu bertemu Bapak di sana. Di rumah sakit tempat mereka bekerja. Di rumah sakit yang menjadi inspirasi penyanyi jadul bernama Rani. Sint Carolus. Bertemu, berkenalan, mungkin makan siang bersama. Menjalin kasih lalu melahirkan aku dan kakak-kakakku.

Aku selalu ingat rutenya. Pinang Ranti, lalu masuk tol. Keluar di Rawamangun. Melewati Pasar Genjing, belok kanan ke Salemba. Atau dari Pinang Ranti ke arah Jalan Raya Bogor, lalu ke Cililitan. Masuk Dewi Sartika, Otista, Kampung Melayu, Matraman, baru ke Salemba.

Aku suka sekali ke rumah sakit itu. Bau obat. Bau Ibu. Kalau aku ke sana, alasannya selain karena sakit adalah karena ingin bermain. Tiap minggunya, ibu selalu membeli majalah Bobo. Tapi sejak aku kelas 4 SD, ibu sudah berhenti berlangganan soalnya lebih banyak iklannya dan isinya tidak sebagus dulu. Lagian, aku juga sudah bosan dengan Bobo.

Saat aku SMA, aku berangkat naik bus yang rutenya melewati Salemba. Kadang-kadang pulang juga lewat Salemba. Kata orang-orang, Salemba-Lubang Buaya itu jauh. Kata aku, itu cukup dekat. Apalah arti jarak kalau diri ini ingin melampaui jarak itu untuk bertemu yang terkasih?

Makin aku besar, nilai Salemba semakin tinggi buatku. Di situ ada universitas negeri yang bagus, dan aku baru saja lulus dari situ (beda kampus sih, tapi untuk beberapa hal, aku harus ke sana). Di sana juga ada pusat kebudayaan Prancis yang sebentar lagi akan pindah ke Thamrin. Di pusat kebudayaan itu, aku menemukan banyak hal. Lalu, dari arah Senen menuju Salemba, ada jalan ke kiri, ke arah Rawasari. Lurus saja, melewati rel kereta api dan penjara. Dulu daerah itu aku kunjungi hanya setahun sekali untuk menengok nenek yang dulu merawat Bapak. Sekarang, daerah itu lumayan sering kukunjungi. Di Rawasari itu juga lah aku bertemu sebagian buku untuk diambil sarinya lalu menjadi skripsi. Buku yang mempertemukanku dengan kekasihku.

Salemba dekat dengan Matraman, yang ada toko buku Gramedia yang besar. Dulu, hampir tiga bulan sekali, Bapak mengantarku ke Gramedia Matraman untuk membeli buku ataupun hanya sekadar melihat-lihat. Salemba dekat dengan Cikini yang ada tempat berkumpulnya kesenian-kesenian dan tempat makan enak. Kakakku suka mengajak aku menonton teater atau makan bertemu teman-temanya di sana. Jalan kaki malam-malam dari Cikini menuju Salemba, ditemani obrolan-obrolan ataupun khayalan itu menyenangkan.


Daerah itu bernama Salemba. Banyak memori di sana, dan akan bertambah banyak lagi.

0 comments: