Thursday, January 26, 2012

"To love is to risk not being loved."

Seseorang memberi tahu aku kalimat tersebut. Aku tidak tahu siapa nama orang yang pertama kali mencetuskan kalimat itu, dan aku tidak peduli. Yang aku pedulikan adalah kalau mencintai, yang adalah hal yang begitu sederhana, saja berisiko, apalagi hal yang jauh lebih rumit.

Risiko. Halo, risiko! Kita bertemu lagi. Jangan bosan-bosan ya sama aku. Aku suka mengicip hal-hal yang berbau kamu. Soalnya kamu menarik sih! Tapi risiko, hal yang aku ambil baru-baru ini penuh dengan kamu. Kamunya sangat besar. Tidak kok, tidak lagi soal hati, tidak soal pangeran tampan dengan kuda putihnya. Ini tentang mimpiku dan kelanjutan hidupku. Risiko, kamu besar sekali. Aku sampai takut. Oh, risiko...

Tapi kemudian, aku berbalik ke beberapa bulan yang lalu saat aku memutuskan untuk mengambil kamu, oh risiko, untuk menjadi bagian dari hidupku dalam tujuh bulan ke depan. Apa alasan aku untuk memutuskan itu? Aku ingin berkembang, aku ingin merasakan hal yang kemarin sudah aku rasakan walaupun sekarang kamu tumbuh lebih besar di dalamnya. Aku selalu bilang aku punya banyak mimpi dan ingin mewujudkan mimpi-mimpiku. Oke, beberapa bintang sudah aku dapatkan. Tapi apakah hanya segitu yang boleh aku dapatkan? Yang lain terlihat jauh dan susah untuk dijangkau. Tapi susah itu bukan berarti tidak bisa kan?

Selalu ada harga yang harus dibayar untuk semua hal. Harganya bisa murah, bisa mahal. Aku merasa hal ini layak dan pantas untuk diperjuangkan. Risiko, kamu baik-baik aja ya sama aku. Eh, salah. Semoga aku yang bisa menangani kamu, seberapa pun besarnya kamu.

0 comments: