Sudah jauh malam. Oh, pagi maksudku. Seharusnya aku sudah tidur memeluk gulingku di ranjang. Atau mungkin aku harusnya mengerjakan tugasku untuk nanti siang. Ntah lah. Aku hanya...hmm...aku hanya ingin mengungkapkan apa yang sedang aku pikirkan dan rasakan. Oh, adakah perbedaan di antara pikiran dan perasaan? Toh katanya tidak ada yang namanya perasaan, semua itu kerja otak kan. Ya, aku hanya ingin menulis. Jangan tanya arah tulisan ini. Ini hanya tulisan tidak berstruktur dengan ejaan dan susunan kata yang tidak baik.
Kenapa ya, kehidupan kampus ini menakutkan? Katakan aku berlebihan, tapi ini memang menakutkan. Busuk. Haha.. Ntah ini aku takut atau jijik. Yang pasti aku kaget. Kenapa sih orang-orang ini sukanya main belakang? Bukankah dunia akan menjadi sangat menyenangkan saat kamu menikmati saja duniamu dengan warna-warnimu sendiri tanpa harus melakukan manipulasi? Ah, tapi memang semua hal sudah dimanipulasi kan? Dosen yang sangat aku kagumi tadi siang berkata, "Kita melakukan dramaturgi kan setiap saat. Bahkan kepada orang tua kita saja kita berdramaturgi." Itu kan berarti bahwa semua hal sudah dimanipulasi. Mungkin ruang yang memberikan kebebasan untuk tidak berdramaturgi itu adalah diri sendiri. Namun, itu pun kalau kamu jujur pada diri sendiri. Hmm gimana ya, aku hanya merasa kasihan dengan orang-orang yang bahkan tidak bisa jujur terhadap dirinya sendiri. Karena, halo, tidak ada satu orang pun yang bisa dipercaya sepenuhnya di dunia ini. Tapi aku adalah salah satu orang itu sih terkadang, orang yang tidak bisa jujur terhadap dirinya sendiri dan malah melakukan beberapa penolakan. Penolakan ya hahaha sampai butuh tamparan dari orang lain.
Berbicara tentang tamparan, tamparan yang terbaik adalah tamparan dari orang terdekat. Sakit, tapi berguna. Bukankah menyakiti itu terkadang menjadi motivasi? Kalau orang memotivasi, bukankah orang itu sayang, atau setidaknya peduli? Kalau mau ditarik garis, berarti menyakiti sama dengan menyayangi atau peduli. Hahaha ya enggak lah. Super linear kalau begitu mah. Ada hal lain yang tentu saja harus diperhitungkan. Jangan main memotong temuan yang ada. Bahkan marah itu hanyalah salah satu pertanda kalau kamu sayang atau peduli kan? Ah, marah yang membangun, maksudku.
Hei, kamu pernah nggak sih merasa sangat ingin memeluk seseorang, bahkan walaupun kamu habis bertemu dengannya tiga jam yang lalu? Atau pernah nggak sih kamu sangat ingin menjadikan seseorang bonekamu karena sayangnya kamu terhadapnya sampai-sampai ia kamu kungkung dengan alasan dia tidak boleh terluka? Pernahkah kamu merasa sangat ingin menangis karena takut tapi juga sekaligus sangat amat mensyukuri segala apa yang terjadi kemudian menjadi terharu? Oh apakah kamu pernah merasakan dan memikirkan berbagai banyak hal sampai kamu merasa ingin muntah? Aku pernah. Aku sedang merasakannya.
Eh, aku mau bertanya beberapa hal deh. Ini pertanyaan yang nggak harus dijawab kok. Aku hanya ingin bertanya. Hmm... Apabila kamu menjadi seorang anak pendeta dan seorang penatua mendapatimu sedang mabuk dan berciuman, apa yang akan kamu lakukan? Apabila kamu menjadi seorang warga di daerah sulit air dan kamu harus mengisi tempat minum anakmua dengan air, apa yang akan kamu lakukan? Apabila kamu adalah seorang pembuat papan nisan kuburan namun dalam beberapa minggu ini tidak ada yang meninggal, apa yang akan kamu lakukan?
Yasudah, segitu saja tulisan ini. Oh, saya belum mengenalkan diri ya? Nama saya Prashasti, dan saya sedang gila. Gila karena cinta kasih yang meluap-luap dari orang-orang terdekat, yang menyadarkan saya bahwa di tengah dunia yang busuk ini, masih ada yang tulus dengan kesederhanaan dan kejujurannya. Tenang, saya bukan anak manis dan baik-baik kok.
Friday, November 30, 2012
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment