Friday, June 14, 2013

Seni dan Taman

Tau pertunjukan Matah Ati? Itu loh, pertunjukan tari yang bagus banget! Ga menjelaskan ya? Hahaha.. Yah cari lah di google tentang itu. Jadi gini, orang-orang penggarap Matah Ati itu bikin pertunjukan lagi dalam rangka ulang tahun Jakarta yang ke-486, namanya Ariah. Kalau Matah Ati adalah tarian Solo, Ariah itu tarian Betawi. Saya sempet diajakin ikut audisinya oleh beberapa teman. Namun, karena prosesnya menuntut komitmen tinggi dengan mahalnya waktu, tenaga, pikiran, dan biaya yang harus dibayar dan saya sedang berkomitmen dalam hal lain, saya tidak jadi mengikuti audisinya. Ternyata, tiga teman saya pun lolos dalam audisi itu. Teman-teman saya yang pecinta dan penikmat seni yang lain tentunya ingin menonton pertunjukan itu. Tapi setelah info harganya keluar, semuanya menjerit. Mahal bo! Masakkan yang paling murah 275 ribu. Ya Matah Ati juga segituan sih. Cuma yaaa sebagai mahasiswa semester tua, banyak uang yang harus digunakan untuk beberapa prioritas tertentu.

Obrolan tentang tiket mahal ini berlanjut di meja takor pojok bersama beberapa teman terbaik saya. Harga pertunjukan di Jakarta itu mahal sekali. Tak usah seni tari, seni musik dan teater pun mahal. Sekarang banyak sih komunitas-komunitas yang menyediakan harga khusus untuk mahasiswa. Mahasiswa tinggal menunjukkan kartu tanda mahasiswanya dan bisa mendapatkan tiket dengan separuh harga. Tapi gimana dengan warga biasa yang tidak menjadi mahasiswa tapi juga penikmat seni? Harganya tetep bakalan mahal buat mereka. Terus gimana orang-orang Jakarta (dan Depok) bisa menikmati seni? Ga usah nikmatin deh, seenggaknya aware aja. Konsumsi seni yang mahal membuat orang-orang jadi acuh terhadap seni itu sendiri. Efeknya adalah orang yang punya duit pun jadi acuh terhadap seni. Padahal, dengan mengonsumsi seni yang sedang berkembang sekarang akan nyumbang sedikit-banyak di kehidupan kita loh. Wong seni itu adalah cerminan kehidupan manusia. Selain itu, seni bisa menjadi media belajar, baik mahasiswa atau bukan.

Sabtu lalu saya menonton teater di Salihara berjudul The Smell of The Soul. Singkatnya, ceritanya adalah tentang serangga pemakan bangkai manusia yang protes karena manusia telah jahat dengan melukai the mother earth. Seketika saya langsung berpikir bahwa di Kriminologi ada pembahasan mengenai kejahatan lingkungan. Tidak, saya tidak akan membahas soal sisi kriminologis dari cerita di pertunjukan tersebut. Saya lebih fokus pada bagaimana seni bisa menunjukkan pada orang-orang tentang permasalahan yang kita hadapi sekarang ini, dalam kasus ini adalah masalah kejahatan lingkungan. Jujur, saya sedang bosan dengan pemberitaan di koran atau atau publikasi hasil penelitian di jurnal-jurnal. Maksud saya gini loh, seni bisa menjadi media penyadaran akan suatu masalah sehingga orang-orang sadar bahwa masalah tersebut harus segera diselesaikan. Lebih bagus lagi, seni bisa menawarkan penyelesaian masalah itu sendiri. Saya senang bahwa banyak teman-teman saya yang suka mengonsumsi dan memproduksi musik, film, tulisan, dan sebagainya. Tapi sedihnya, lebih banyak lagi yang acuh.

Tidak bisa dipungkiri, ongkos produksi pertunjukan itu mahal. Mulai dari yang substansial sampai ke teknis. Saya yang pernah ikut dalam beberapa produksi seni mengakui bahwa saya ngos-ngosan klo harus disuruh ngumpulin duit untuk itu. Cari ongkos produksi murah juga susah. Hiks. Saya mengerti kok, untuk bikin pertunjukan bagus, dana juga harus bagus. Ga bermaksud nyalahin pemerintah gara-gara dana untuk hal-hal berbau seni itu sedikit. Eh, sebenernya ga sedikit juga. Wong pemerintah bisa mendanai beberapa puluh penari untuk pencitraan budaya Indonesia di luar negeri kok. Tapi pertunjukan yang ada di dalam negeri malah diacuhkan. Hmm kemudian ada pertanyaan: mengapa harus pertunjukan mewah di gedung pertunjukan? Produksi dan konsumsi seni toh masih bisa dilakukan di tempat terbuka.

Ulang tahun Jakarta di tahun 2013 ini sangat bagus menurut saya. Ada Festival Kampung Jakarta yang berisikan pertunjukan-pertunjukan seperti marawis, bazar kuliner, angklung, pencak silat, dan sebagainya di 36 kecamatan di Jakarta. Jadi ga cuma ada PRJ yang cuma bisa ngeliat orang jualan dan ujung-ujungnya macet. Keliatan ya gubernur yang sekarang nyeni :) Terus kakak saya berkomentar bahwa dari tempat-tempat diadakannya festival tersebut, kita diingatkan kembali bahwa Jakarta kekurangan taman. Memang, taman di Jakarta itu sangat sedikit. Padahal, banyak yang bisa dilakukan di taman. Seperti misalnya di Taman Suropati. Banyak yang berlatih perkusi, biola, bela diri, dan masih banyak lagi. Hal-hal itu sebenarnya bisa mendekatkan seni ke masyarakat. Proses latihan mereka setidaknya bisa membuat masyarakat aware kalau ada banyak berbagai macam kesenian. Selain itu, proses latihan itu bisa menjadi tontonan dan hiburan tersendiri bagi orang Jakarta yang sehari-hari dicekokin macet, mall, dan gadget. Contoh lain adalah Taman Ismail Marzuki. Yah sebenarnya bukan taman yang banyak rumput dan tempat duduk-duduk sih. Tapi di sana banyak yang latihan menari, latihan musik, dan sebagainya. Sayang, tempat duduk-duduk di TIM sedikit sekali untuk menikmati itu. Sedangkan, kalau mau duduk lesehan, tanah atau aspalnya basah bekas hujan atau penuh sampah. Beberapa waktu yang lalu, saya menonton pertunjukan seni gratis di TIM. Pertunjukan itu merupakan pertunjukan gabungan teater, tari, puisi, musik, dan vokal. Walaupun saya ga ngerti jalan ceritanya, tapi saya katakan pertunjukan itu bagus dengan sound effect nya, visualisasinya, dekorasinya yang bagus. Sayang, publikasinya kurang sekali. Saya saja taunya dari teman saya yang guru tarinya tampil di pertunjukan itu. Tidak ada publikasi besar-besaran sehingga warga Jakarta bisa mengetahui dan datang menikmati pertunjukan gratis tersebut.

*sigh* Terlalu muluk ga sih kalau saya berharap kalau suatu hari nanti ada festival di Jabodetabek kayak festival Du Sud di bagian selatan Eropa yang mendatangkan banyak seniman dan menggelar banyak pertunjukan gratis untuk dinikmati warga? Kalau terlalu muluk, saya berharap aja deh taman di Jabodetabek diperbanyak sehingga orang-orang bisa beraktivitas dan berkesenian di sana.

3 comments:

Kiki said...

you know how the world of art is somehow 'scary'..

people go beyond everything by money to enjoy the art..

that's why. I am scared.

check mine ya!
www.jovialmadchen.blogspot.com

Christ Billy Aryanto said...

Gee I love this Ti :) Ketika berpikir menggunakan kacamata orkestra, rasanya seni semakin tidak terjangkau.

asti said...

ironis sih menurut gue, saat seni itu awalnya tumbuh dari masyarakat, tapi sekarang seni seakan dijauhkan dari masyarakat.